Jika Anda bertanya-tanya mengapa cuaca hujan terus di Jakarta selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, Anda tidak sendirian. Jutaan warga Jakarta setiap tahun menghadapi periode di mana cuaca hujan terus di Jakarta tanpa henti, menyebabkan kemacetan parah, banjir, dan gangguan aktivitas sehari-hari. Artikel ini menjelaskan penyebab ilmiah di balik fenomena ini.
Mengapa Jakarta Sangat Sering Hujan
Jakarta memiliki beberapa karakteristik geografis dan klimatologis yang menyebabkan kota ini menjadi salah satu ibu kota paling basah di dunia. Curah hujan tahunan Jakarta mencapai 1.800–2.000 mm, jauh di atas rata-rata kota-kota di Asia Tenggara.
Pertama, Jakarta terletak di dataran rendah dekat pantai dengan 13 sungai mengalir melaluinya. Kedekatan dengan laut menyediakan sumber uap air yang hampir tidak terbatas. Akibatnya, awan hujan terbentuk dengan sangat mudah di atas dan sekitar Jakarta.
Kedua, di sebelah selatan Jakarta terdapat Pegunungan Bogor dan Puncak yang menciptakan efek konvergensi angin. Angin dari laut utara bertemu dengan angin dari pegunungan selatan di atas Jakarta, menciptakan daerah pertemuan angin yang ideal untuk pembentukan hujan. Oleh karena itu, Jakarta sering menerima hujan yang sebenarnya "ditujukan" untuk wilayah lebih jauh.
Pola Hujan Jakarta Per Bulan
| Bulan | Curah Hujan Rata-rata | Hari Hujan | Kondisi Umum |
|---|---|---|---|
| Januari | 300 mm | 20 hari | Puncak musim hujan, risiko banjir tinggi |
| Februari | 280 mm | 18 hari | Masih musim hujan puncak |
| Maret | 220 mm | 16 hari | Mulai berkurang |
| April | 150 mm | 12 hari | Pancaroba awal |
| Mei | 100 mm | 9 hari | Awal musim kemarau |
| Juni | 80 mm | 7 hari | Musim kemarau |
| Juli | 60 mm | 5 hari | Musim kemarau terkering |
| Agustus | 50 mm | 4 hari | Musim kemarau terkering |
| September | 70 mm | 6 hari | Mulai pancaroba |
| Oktober | 120 mm | 10 hari | Awal musim hujan |
| November | 200 mm | 15 hari | Musim hujan mulai intens |
| Desember | 280 mm | 19 hari | Mendekati puncak musim hujan |
Pengaruh La Nina terhadap Hujan Jakarta
Selain pola musim reguler, fenomena iklim global juga mempengaruhi intensitas hujan Jakarta. La Nina adalah fenomena pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah yang terjadi setiap beberapa tahun sekali. Saat La Nina aktif, curah hujan di Indonesia — termasuk Jakarta — bisa meningkat 20–40% di atas normal.
Sebaliknya, El Nino menyebabkan suhu permukaan laut Pasifik menghangat dan menggeser pusat konveksi ke arah timur. Akibatnya, saat El Nino aktif, curah hujan Jakarta berkurang dan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Kedua fenomena ini bersiklus setiap 2–7 tahun dan sangat mempengaruhi pola cuaca Jakarta.
Mengapa Banjir Terjadi Meski Hujannya Biasa Saja
Banjir di Jakarta tidak selalu disebabkan hujan yang sangat lebat. Kadang hujan yang biasa-biasa saja pun menyebabkan banjir parah. Ini karena kapasitas drainase Jakarta sudah tidak memadai untuk volume air yang masuk.
Selain itu, banjir kiriman dari Bogor dan Depok sering memperburuk situasi. Ketika Puncak dan Bogor menerima hujan lebat, air mengalir turun melalui sungai-sungai menuju Jakarta dalam hitungan jam. Oleh karena itu, Jakarta bisa banjir bahkan ketika di Jakarta sendiri hanya gerimis.
Tips Menghadapi Musim Hujan di Jakarta
Menghadapi cuaca hujan terus di Jakarta memerlukan persiapan yang matang. Pertama, pantau prakiraan cuaca Jakarta hari ini setiap pagi sebelum berangkat. Ini membantu Anda memilih rute perjalanan dan mempersiapkan perlengkapan yang tepat.
Kedua, ikuti akun media sosial BPBD Jakarta yang memberikan informasi real-time tentang titik-titik banjir. Ketiga, simpan nomor darurat banjir Jakarta di handphone Anda. Keempat, pertimbangkan jadwal keberangkatan lebih awal saat cuaca buruk diprediksi karena kemacetan akibat banjir bisa menambah waktu perjalanan hingga 2–3 kali lipat. Pantau juga prakiraan 7 hari Jakarta untuk perencanaan mingguan.

